Feeds:
Pos
Komentar

Tembang ini dulu mulai saya dengar sejak masih kecil. Namun baru akhir-akhir ini mengetahui makna atau filosofi di baliknya. Ternyata sangat mendalam dan bernuansa dakwah yang tinggi.
Pemaknaan berikut ini diambil dari film Tjokroaminoto, yang dituliskan oleh Bu Muktia Farid dalam blognya, seperti berikut ini;
Lir ilir, lir ilir, tandure wis sumilir
Bangun, bangunlah (dari keterpurukan), saatnya telah tiba.
Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar
Panji Islam mulai berkembang, menarik hati semua orang
Cah angon, cah angon penekno blimbing kuwi
Wahai para pemuda, amalkan Islam dengan benar
lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodo iro
meski berat perjuangan, tetaplah terus berbuat (amal), untuk menyucikan jiwamu
Dodotiro, dodotiro kumitir bedahing pinggir
saat pakaian (akhlakmu) terkoyak
dondomona jlumatono kanggo sebo mengko sore
perbaikilah, sempurnakanlah (Islammu), demi masa depan (akhirat)
mumpung gede rembulane, mumpung jembar kalangane
senyampang usiamu masih muda, selagi masih banyak kesempatan
yo sorak ooooo, sorak hiyooo
hingga kita temui kebahagiaan.

Sumber:
https://muktiberbagi.wordpress.com/2015/04/13/makna-film-tjokro-bagi-kita/
– Film: Guru Bangsa Tjokroaminoto

Haruskah Istri Memasak?

Ditulis oleh: Cahya Herwening

Ada hal menarik dari sharing Ust. Cahyadi Takariawan yang belum sempat saya tuliskan pada tulisan terdahulu. Awalnya saya agak tercengang sedikit, mendengar pendapat beliau. Namun setelah dipaparkan lebih jauh, akhirnya saya manggut-manggut paham dan mengamininya.

Apakah yang beliau katakan? Boleh jadi hal ini terdengar ekstrim bagi sebagian kalangan. Bagi yang lain mungkin hanyalah hal biasa dan sudah biasa. Pak Cah menyampaikan, bahwa istri itu tidak harus memasak!

image

sumber gambar: ummu-nuffail.blogspot.com

Lanjut Baca »

Oleh: Cahya Herwening

Setiap awal bulan, pondok pesantren kami memiliki agenda rutin arisan yang menjadi tempat berkumpul dan silaturahimnya guru dan karyawan dari seluruh unit. Acara itu berisi ramah tamah untuk mengakrabkan semua hadirin, dan juga suplemen dari ustadz/pembicara yang diundang. Tempat dilaksanakannya acara bergantian dari rumah ustadz/ah satu ke yang lain, sehingga makin tahu banyak lokasi tempat tinggal para asatidz/ah.

Arisan bulan ini jatuh pada hari ini, Jum’at, 10 April 2015. Pembicaranya keren banget, salah satu ustadz tingkat nasional yang tinggal di Jogja, dan juga tak jarang mengisi materi di Prambanan. Beliau adalah Ustadz Cahyadi Takariawan, S.Si.Apt. Dan yang membuat agak kaget, beliau tidak berbicara tentang tema keluarga, parenting, maupun dakwah. Beliau menyampaikan tema kepenulisan. Deg! Tema yang mungkin terasa asing di forum arisan.

Lanjut Baca »

Unknown Kindman

oleh: @CahyaHw

Sore ini seperti biasa saya menjemput si buah hati ke daycare. Sesampainya di sana, disambut senyum si kecil yang segera bisa mengobati lelah dan penat selepas kerja. Dia membawa kantong plastik berisi snack sereal yang sudah terbuka dan sebungkus wafer.

Setelah siap di gendongan, maka segeralah kami meluncur pulang. Si anak masih membawa bungkusannya. Tadinya sebelum naik motor, saya arahkan untuk dimasukkan di tas dulu, tapi dia menolak. Ketika sudah di motor, saya minta bungkusannya diselipkan ke jaket, tetap tidak mau. Khawatir jatuh, meski tidak seberapa harganya tapi kan mubadzir, begitu pikir saya. Lanjut Baca »

oleh: Anonim

Tembang Jawa ini konon diciptakan tahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga dan teman-temannya yang masih remaja dan mempunyai arti filosofis yang dalam dan sangat mulia.

Berikut syairnya:

Gundul-gundul pacul cul
Gembelengan
Nyunggi-nyunggi wakul kul
Gembelengan
Wakul ngglimpang
Segone dadi sak latar
Lanjut Baca »

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
 
Kapankah saat terbaik menyampaikan nasehat kepada anak? Kapankah masa yang tepat untuk mempengaruhi jiwa anak? Menurut sebagian orang, saat terbaik itu adalah ketika anak menjelang tidur. Mengapa demikian? Konon, otak anak berada dalam keadaan gelombang alpha. Pada saat itu, otak lebih siap menerima nasehat. Di luar persoalan benar tidaknya anggapan tersebut, ada berbagai kerepotan jika untuk mempengaruhi jiwa anak harus menunggu ia hampir tertidur. Jangan-jangan kitalah yang justru tertidur lebih dulu dibanding anak yang mau kita pengaruhi jiwanya.

Pertanyaan yang perlu kita jawab dan renungkan adalah, mengapa pada masa dulu orangtua dapat memberi nasehat dan memerintah anak kapan saja? Bahkan saat baru pulang sekolah,anak tetap mentaati perintah dan mendengarkan nasehat orangtua. Tak ada keluh-kesah, tak ada penolakan. Bahwa sekali masa anak merasa berat dengan perintah orangtua, itu perkara yang wajar.  Tetapi pada umumnya anak mendengar nasehat dan mentaati perintah orangtua meskipun dia sedang dalam keadaan capek dan baru saja tiba di rumah. Lalu apa bedanya dengan anak-anak di masa sekarang?

Lanjut Baca »

Kerinduan Sang Syaikh

Aku rindu zaman ketika dauroh menjadi kebiasaan, bukan sekedar pelengkap pengisi program yang dipaksakan.

Aku rindu zaman ketika hadir di liqo’ adalah kerinduan, dan terlambat adalah kelalaian.

Aku rindu zaman ketika malam gerimis pergi ke puncak mengisi dauroh dengan ongkos ngepas dan peta tak jelas.

Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah benar-benar jalan kaki 2 jam di malam buta sepulang tabligh dakwah di desa sebelah.

Lanjut Baca »

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 538 pengikut lainnya